TUMBAL PESUGIHAN (BERSAMBUNG)
D esiran angin berhembus dengan kuatnya, membuat jendela rumahku mulai bergerak sendiri mengikuti arah mata angin. Aku berdiri menatap lampu penerang ruang tamu yang tiba-tiba berkedip berkali-kali. Samar-samar terdengar suara wanita menangis, di halaman depan, tangisannya lirih membuatku merinding, mana ada wanita menangis malam-malam. Ingin rasanya melihat siapa yang menangis di depan rumah. Kubuka pintu dan terkejut dengan suara panggilan ibu. “Gunadi, mau kemana nak?. “Ibu, bikin aku kaget saja. Bu, dengar ndak suara wanita menangis itu bu?. ‘Ndak tuh, sudah jangan bayangkan yang tidak-tidak. ayo tidur sana”. “Iya bu”. A ku melangkah menuju kamar seperti biasa, dan menutup jendela kamar yang masih terbuka. Gerimis malam mulai turun perlahan, hawa dingin malam serasa masuk ke tulang, aduh dinginya. Ku...